SEKILAS INFO
: - Sabtu, 26-09-2020
  • 6 bulan yang lalu / Ujian Madrasah (UM) & Ujian Sekolah (US) diselenggarakan Tanggal 16 s/d 24 Maret 2020. Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) diselenggarakan Tanggal 30 Maret 2020 s/d 02 April 2020. Diharapkan kepada seluruh siswa/i untukmempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Selamat Berjuang Mencapai Cita-cita dan Impian.
Potensi Otak menurut Islam

A. Islam dan Otak Kanan

Islam adalah agama yang dapat merangsang otak kanan manusia menjadi berfungsi. Betapa tidak, ketika kita mencoba memahami bagaimana pergantian malam dan siang terjadi, seperti dijelaskan dalam Al Qur’an, tentu diperlukan daya imajinasi untuk bisa merasakan kebesaran Tuhan dalam menciptakan alam semesta, menumbuhkan aneka tumbuhan, dan bagaimana Sang Khaliq menurunkan hujan.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Qs. Ali Imran: 190-191).

“Tanpa bantuan imajinasi, kita tidak sanggup melihat dan merasakan langsung tanda-tanda yang dimaksud, dan tidak sanggup memikirkan penciptaan langit dan bumi,”

Bahkan dalam hadits Nabi dikatakan: “Sembahlah Tuhan-Mu seakan-akan engkau melihatnya, dan apabila kamu tidak sanggup melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah melihat kamu.” Sangat jelas dalam hadits ini, perintah untuk seolah-olah melihat Allah dalam shalat adalah pekerjaan imajinasi atau kemampuan “membayangkan.” Seperti diketahui, ayat-ayat suci Al Quran banyak menggunakan kata perumpamaan: seakan-akan, seperti, yang tentunya membutuhkan daya imajinasi yang kuat. “Tahukah Anda kalau daya imaninasi adalah tanggungjawab otak kanan?”

Tahukah Anda, bahwa kemampuan otak kanan itu memiliki kapasitas 90% dan otak kiri hanya 10-12%. Hasil penelitian mutakhir di AS menyebutkan, peran logika dalam membuat orang menjadi sukses hanya 4-6%, sedangkan 94-96% adalah tanggung jawab otak kanan yang banyak berhubungan dengan inovasi, kreativitas, naluri, intuisi, daya cipta, kejujuran, keuletan, tanggung jawab, kesungguhan, spirit, kedisiplinan, etika, empati dan lain-lain.

Sedangkan tugas otak kiri adalah yang selalu berhubungan dengan angka-angka, bahasa analisa, logika, intelektual, ilmu pengetahuan. Adapun otak kanan bertanggungjawab dalam hal imajinasi, kreativitas, seni, music, inovasi, daya cipta, intuisi, otak bawah sadar, keikhlasan, kebahagiaan, spirit, keuletan, kejujuran, keindahan dan lain-lain. Selain diurusi oleh otak kiri, juga menjadi urusan otak kanan.

Otak kanan dapat merekam dengan cepat dan tersimpan selamanya dalam memori otak. Sel-sel darah manusia dapat menjadi cadangan tempat penyimpanan memori manakala memori otak kita penuh. Kapasitas kemampuan otak kanan dalam menyimpan memori mencapai 10 pangkat 5 juta kilometer.

Dikatakan Arman, otak kanan, sesungguhnya dapat merekam dengan cepat dan tersimpan selamanya dalam memori otak. Sel-sel darah manusia dapat menjadi cadangan tempat penyimpanan memori manakala memori otak kita penuh. Perlu diketahui, kapasitas kemampuan otak kanan dalam menyimpan memori mencapai 10 pangkat 5 juta kilometer, yang kalau dihitung deretan angka nol di belakangnya adalah sebanding dengan jarak antara bumi dan bulan 14 kali pulang pergi.

 “Otak kanan memiliki kemampuan dalam hal rasa empati atau kepedulian yang tinggi. Otak kanan juga memiliki kemampuan berkolaborasi dengan hati, memiliki kemampuan daya kreatif dan seni yang tinggi. Keistimewaan otak kanan juga memiliki gelombang otak bersama gelombang alfa. Gelombang ini yang bisa merasakan keikhlasan, kebahagiaan, ketenangan, kekhusyukan, relaxi, hening, kepuasan, imajinatif dan seterusnya.

Praktisi pendidikan Djauharah Bawazir menambahkan, untuk memfungsikan otak kanan anak, perlu merubah metode dan paradigma guru dan pendidikan kearah pembelajaran yang lebih baik dan efesien. “Pendidik harus focus. Setelah merubah paradigma, lalu ditanamkan kesadaran, disiapkan mental berjuang dan pengorbanannya. Ingat, guru itu digugu dan ditiru,” kata Djauharah yang juga Dosen PGTK Bunyan.

Kata Djauharah, ketika paradigma diubah, maka seorang pendidik akan diikuti anak didiknya tanpa paksaan, disegani tapi dicintai, menjadi teladan, mengarahkan, membangun semangat, mengembangkan cita-cita, dan memotivasi. Ketika pola didik dilakukan secara maksimal, maka terbentuklah karakter manusia yang berilmu, bertakwa, ikhlas, santun, tanggungjawab dan sabar.

“Seorang pendidik ketika memberikan hukuman kepada anak didiknya, bukanlah pelampiasan kekesalan, tapi untuk kebaikan anak didiknya. Jangan buat anak susah, ketakutan, dan tertekan di kelas, sehingga menyebabkan anak tidak kreatif. Pendidik yang sukses adalah ketika anak didiknya selalu senang dan bersemangat pergi ke sekolah dan ingin sekali bertemu dengan gurunya,” tandas penulis buku Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) itu.

 

B. Dahsyatnya Otak Kita

Pada dasarnya, otak manusia memiliki 1 triliun sel yang terdiri dari 100 milyar sel saraf aktif (neuron), dan setiap 100 milyar neuron dapat tumbuh cabang hingga sebanyak 20.000. Bahkan jika setiap detik sebuah informasi baru dimasukkan ke dalam otak, maka dalam waktu 30 juta tahun otak baru akan penuh terisi. Allâh SWT pun mengistimewakan manusia dengan hafalan ilmu pengetahuan yang tinggi. Kekuatan hafalan adalah bukti nyata kecerdasan otak manusia. Pemiliknya menjadi tinggi dan mulia dibanding dengan yang lain.

Sehingga dahulu hampir syarat keutamaan semisal mufassirmujtahid, imam shalat, atau perawi hadits, salah satunya adalah kemampuan hafalan. Imam Bukhari pun mampu membenarkan 100 hadits yang telah dibolak-balik sanad dan matan, juga Abu Bakar al-Anbari mampu mendiktekan kitab Gharib al-Hadits setebal 45 ribu lembar dengan hafalan. Banyak kisah serupa yang dengan mudah kita temukan dalam sejarah keemasan Islam.

 Kondisi yang “Menyeimbangkan”

Kita memerlukan kondisi yang memadukan otak kanan dan kiri untuk membantu mengembangkan kemampuan otak. Seseorang yang mampu mengintegrasikan penggunaan kedua belahan otak akan mengalami keadaan yang lebih baik karena mampu memanfaatkan fleksibilitas untuk menyesuaikan diri dalam situasi apapun, yang memerlukan keterampilan berpikir secara logis, analitis, atau pendekatan holistik dan intuitif.

Teori pendidikan Islam menyertakan bahwa kondisi yang menyenangkan adalah salah satu komponen pokok dalam proses pendidikan. Anak-anak pada zaman Rasulullâh s.a.w. melakukan berbagai aktivitas belajar melalui permainan. Para pendahulu juga menekankan pentingnya permainan untuk membangun kesehatan fisik dan perkembangan kemampuan dan keseimbangan otak anak. Imam Ghazali berkata, “Setelah seorang anak menyelesaikan hafalan al-Qur’ân, hendaknya ia diberi kesempatan untuk melakukan permainan yang baik. Seandainya anak dilarang bermain dan membebaninya untuk selalu belajar, maka hal tersebut akan mematikan hati, menghancurkan kecerdasan dan mempersulit langkah kehidupannya. Sehingga si anak akan berusaha untuk mencari akal dan menciptakan tipu daya agar dapat keluar dari semua penderitaan tersebut.” Maka, permainan dinilai sebagai jalan keluar bagi anak dan memenuhi segala kebutuhannnya. Belajar dengan menyenangkan adalah siasat atau rencana yang cermat mengenai proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, dan atau proses penciptaan sistem lingkungan yang merupakan upaya yang diciptakan dan dirancang untuk mendorong, terjadinya belajar secara menyenangkan sehingga dapat mengoptimalkan potensi yang ada.

Sebagaimana dicontohkan Rasulullâh s.a.w.beliau menyusun berbagai perlombaan, “Barangsiapa yang lebih dulu dapat mencapaiku, maka ia akan mendapatkan ini dan itu dengan menyebutkan hadiah yang yang akan diterima oleh si anak”. Mendengar ucapan Beliau, anak-anak pun berlomba untuk menuju tubuh Rasulullâh. Mereka ada yang langsung bergelayut di punggung Rasulullâh dan ada pula yang mendekap dada beliau, sedangkan Beliau langsung menyambut mereka. Riwayat ini mengindikasikan bahwa manfaat yang diperoleh dari bermain akan tampak bila disusun dan diarahkan menjadi permainan yang mendidik. Proses perkembangan potensi anak akan terwujud melalui usaha yang sadar dan terencana jika di dalamnya telah diletakkan muatan yang tertata.

 

C. Tips Memaksimalkan Kemampuan Otak

Peningkatan kemampuan otak dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan emosional conditioning, penataan fisik, penataan rohani anak, memilih waktu yang tepat untuk mengulangbelajar dengan learning style, dan menghindari perbuatan maksiat.

  1. emotional conditioning

penting dilakukanHendaknya proses belajar dimulai ketika kita tengah bersemangat dan segar. Apabila proses belajar dimulai ketika kita sedang lelah, maka kita akan kehilangan fokus dan tidak dapat mengingat satu pun yang telah dibaca. Jika keadaan psikologis dalam keadaan baik, maka kita akan dapat menerima berbagai pengetahuan dengan baik, bahkan dapat menyimpan dalam kurun waktu yang lama. Dengan demikian, akan timbul rasa percaya diri dan memiliki rasa optimis untuk berhasil.

  1. tatalah fisik kita

Islam sangat menganjurkan terwujudnya tubuh yang kuat sehingga kita mampu menjalankan kewajiban di tengah-tengah masyarakat muslim. Seperti sebuah hadits yang telah disabdakan Rasulullâh bahwa seorang mukmin yang kuat tentu lebih disenangi Allâh SWT. Terkait dengan hal tersebut, Islam memperbolehkan manusia untuk makan dan minum sesuatu yang halal secara tidak berlebihan sehingga anggota tubuh yang sehat dapat memanfaatkan makanan yang halal tersebut dengan sempurna.

  1. penataan rohani

Islam benar-benar memperhatikan pendidikan rohani yang dianggap sebagai sarana untuk mengenali Allâh SWT dengan cara beribadah. Yang dimaksud dengan ibadah disini bukan sekedar ibadah dalam gerakan lahiriah saja, akan tetapi ibadah yang dilakukan dengan penuh penghayatan.

Dalam buku The Human Brain (2007) dijelaskan dalam suatu penelitian bahwa ketika seseorang berpikir akan menunjukkan pertambahan aliran darah masuk ke jaringan otak. Apabila seseorang menggunakan suatu bagian otaknya, maka secara otomatis di area tertentu dari otak tersebut terjadi vasodilatasi sehingga aliran darahnya bertambah, sementara di tempat lain tetap. Hal ini menjelaskan bahwa salah satu fungsi shalat adalah melatih otak atau untuk membuat latihan bagi pembuluh darah otak yakni dengan memahami makna bacaan shalat.

  1. manajemen waktu

Waktu yang tepat untuk mengulang pelajaran adalah waktu sahur karena pada waktu pagi itu seluruh potensi terkumpul. AllâhSubhânahu wa Ta’âla berfirman dalam surat al-Muzammil [73]: 5-6, “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” Subuh merupakan saat yang hening sehingga jiwa yang tenang dan damai.

Belajar saat subuh juga memanfaatkan pola-pola gelombang otak secara alami yaitu gelombang alfa, dimana merupakan keadaan terbaik saat belajar. Selain itu, kita juga dapat belajar melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Dengan semua unsur keuntungan di atas, maka kita pun telah siap belajar, membaca dan menguatkan berbagai pelajaran yang baik.

  1. belajarlah dengan learning style

Learning Style di sini diartikan dengan cara atau pola bagaimana sebuah informasi dapat diterima dengan baik dan sukses oleh otak. Menurut Grinder (1970), ada tiga macam gaya belajar, yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Perbedaan dalam gaya belajar disebabkan oleh dominansi bagian otak kanan maupun kiri. Individu yang cenderung menggunakan otak kiri mempunyai karakter lebih suka suasana sepi saat belajar, membutuhkan pencahayaan terang, lebih suka perabot formal dalam belajar, memiliki ketekunan tinggi, maupun tidak makan ketika sedang belajar. Sedangkan individu yang dominan otak kanan lebih suka mendengarkan musik ketika belajar, lebih suka penerangan redup saat belajar, lebih suka perabot kelas yang tidak formal, dan belajar lebih baik jika sambil makan/ ngemil. Individu dengan dominansi otak kiri akan cenderung visual dan cenderung kinestetik pada individu dengan dominansi otak kanan.

  1. jauhilah perbuatan maksiat

Setelah kita belajar, maka kita harus paham bahwa kemaksiatan akan dapat melemahkannya. Imam Syafi’i, seseorang yang memiliki kecepatan dalam menghafal, beliau pernah mengadu kepada gurunya ketika beliau mengalami masalah dalam menghafal. Sang guru pun lalu memberikan obat mujarab, yaitu dengan nasihat agar sang Imam meninggalkan perbuatan maksiat.

Imam Syafi’i rahimahullâh berkata, ”Aku mengadu kepada (guruku) Waqi’ atas buruknya hafalanku. Maka diapun memberiku nasihat agar aku meninggalkan kemaksiatanDia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya Allâh tidak akan diberikan kepada orang yang selalu bermaksiat.”

Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga menegaskan dalam bukunya Jawabul Kafi bahwa “Perbuatan maksiat adalah faktor terbesar yang menghapus berkah usia, rezeki, ilmu, dan amal.” Oleh karena itu kita juga harus berusaha seoptimal mungkin untuk selalu menghindari tempat-tempat maksiat, apalagi na’udzu billâh gemar bermaksiat dengan segala macam bentuknya karena dapat memadamkan ilmu yang telah didapat.

Maka Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan sebuah pemahaman dasar atas paradigma “kesempurnaan” yang dianugrahkan kepada manusia, yaitu bahwa Allâh telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

 

Sumber: http://www.senamkecerdasanotak.or.id

TINGGALKAN KOMENTAR

STATISTIK WEB

  • 11.901 Hit